Ini Manfaat Lain dari Kentang

Tahukah Anda, kentang juga bisa menghilangkan karat. Jadi sebelum alat rumah tangga dari besi Anda rusak karena karat, manfaatkan kentang untuk menghilangkannya.

Cara Murah dan Mudah Basmi Komedo

Komedo semakin terlihat banyak bertebaran di hidung? Ada cara yang lebih mudah nan murah untuk membasminya.

Cara Mengurangi Berat Badan Bagi yang Malas Diet

Ingin kurus tapi malas diet, Anda hanya perlu tahu cara yang tepat. Untuk itu, lakukan 10 tips berikut ini.

Cara Praktis Buat Bumbu Dapur

Ini cara membuat bumbu dapur yang praktis. Selain mudah dan menghemat pengeluaran, bumbu dapur buatan sendiri ini bisa disimpan dalam jangka waktu lama.

6 Kesalahan Make-Up Ini Mungkin Penyebab Gagal Selfie

Sudah berapa puluh kali foto selfie dikutip, tetap saja tidak berkenan di hati. Mungkin saja karena kesalahan make-up.

Saturday, October 5, 2019

Bunda Punya Anak Takut Masuk Sekolah? Mungkin Bisa Mencoba 4 Tips Berikut

Di era modern ini banyak keluarga yang memilih mengajar anak-anaknya di rumah alias homeschooling.

Namun tidak sedikit juga yang memilih program pendidikan di sekolah yang diselenggarakan negeri atau swasta.

Untuk pendidikan anak usia dini, biasanya sekolah Play Group atau PAUD menerima balita dari usia 3 tahun sebagai siswa.


Ada anak yang antusias saat menyambut hari pertama sekolah. Namun ada juga yang takut ke sekolah. Untuk anak yang antusias dengan sekolah barunya, biasanya ia akan sangat percaya diri mengeksplorasi area sekolah tanpa harus ada Bunda atau Ayah menemaninya.

Namun, untuk anak yang masih takut dengan momen pertama sekolahnya, Ayah dan Bunda perlu mengeluarkan usaha lebih untuk meyakinkannya betapa sekolah itu menyenangkan.
Baca Juga: Punya Anak Berbakat? Jangan Dilarang atau Dibatasi
Bagi yang merasa kesulitan menyakinkan putra-putrinya untuk mandiri dan tidak takut sekolah, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membantu anak merasa nyaman berada di sekolahnya:

1. Meyakinkan diri sendiri bahwa anak kita akan baik-baik saja

Salah satu tanda anak yang takut atau tidak percaya diri saat pertama kali sekolah lazimnya adalah menangis dan tidak mau ditinggalkan, sehingga Bunda ‘terpaksa’ menjadi murid tambahan di kelas. Secara psikologi, ketakutan itu memang wajar. Banyak orangtua yang akhirnya menuruti kemauan anak karena kasihan.
Bunda boleh menemaninya, namun hanya di minggu-minggu pertama. Sekolah biasanya juga akan memberi toleransi pada para orangtua agar anak terbiasa dengan lingkungan sekolahnya. Setelah itu, sekolah akan mewanti-wanti para orangtua agar mau bekerjasama dengan sekolah. Setelah minggu pertama usai, maka orangtua harus ‘tega’ membiarkan anak bersama para gurunya. Oleh karena itu meyakinkan diri kita sendiri terlebih dahulu bahwa anak kita baik-baik saja, menjadi hal pertama yang perlu kita lakukan.

2. Percayakan anak kepada guru

Guru yang baik tentulah mampu menjaga, mendidik, dan mengasuh anak kita sebaik kita saat di rumah. Untuk mempererat rasa percaya, maka jalinlah komunikasi yang baik dan intens dengan para guru. Bunda bisa bertanya bagaimana si kecil di sekolah hari itu, atau sekedar menyapa mereka saat mengantar atau menjemput si kecil.

Sekolah yang baik biasanya memiliki buku penghubung agar guru dan orangtua dapat saling berkomunikasi mengenai perkembangan anak di sekolah. Hal ini bisa dimanfaatkan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan para guru.

3. Ajari anak bahwa sekolah tempat yang menyenangkan

Untuk anak yang belum nyaman dengan sekolah barunya saat mereka bersekolah untuk pertama kalinya, dukungan orangtua sangat mereka perlukan. Bunda dapat mengajak mereka bicara dan menceritakan betapa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.

Bunda bisa bercerita aktivitas apa saja yang bisa dilakukan di sekolah, permainan apa saja yang bisa dimainkan bersama anak-anak lain, berapa banyak teman yang bisa diajak main bersama. Inti dari perbincangan itu adalah untuk membentuk kesan di benak anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan untuk bermain dan belajar bagi mereka.

4. Berikan apresiasi kepada anak setelah bisa beradaptasi di sekolah

Rasa takut terhadap sekolah baru biasanya hanya akan berlangsung sebentar saja. Berganti dengan antusiasme mereka terhadap sekolah. Jika ini sudah terjadi, jangan lupa berikan apresiasi pada mereka karena berhasil mengalahkan rasa takut ke sekolah.

Apresiasi ini tidak harus berupa uang atau barang, ada banyak hal sederhana yang bisa dilakukan namun memberikan efek besar pada tumbuhnya rasa percaya diri anak. Pelukan, ciuman, tepuk tangan, tos, pujian dan ucapan terimakasih bisa kita persembahkan pada mereka atas prestasi yang sudah mereka raih. Ingat, jangan pernah marahi anak kita karena tangisan mereka saat pertama kali sekolah. Ini hanya akan memperburuk keadaan. Hari ini dimarahi, besok ia tidak akan mau sekolah lagi!

Kalau saya sih untuk membuat anak itu senang dan berani ke sekolah serta mau mengikuti pelajaran dengan baik, selain pelukan, tos, pujian seperti saya sebutkan di atas, saya biasanya juga reward kecil-kecilan seperti camilan sehat. Hal ini semakin memacu mereka semangat datang dan belajar di sekolah. Namun jangan terlalu sering, ya. Agar tidak membuat anak jadi manja.

Terakhir, perlu kita tanamkan juga dalam benak kita, bahwa sekolah bukanlah tempat penitipan anak, bukan juga tempat kita mengalihkan tanggungjawab mendidik anak. Maka, kita juga harus terlibat dalam proses pendidikan anak kita di sekolah. Banyak cara dapat dilakukan untuk itu. Selamat mencoba.

Oh ya, TK Negeri Pembina 5 Malang siap menunggu kalian di sekolah.

Friday, July 28, 2017

6 Masalah yang Memengaruhi Kesehatan Anak yang Jarang Diketahui Orang Tua

Cantik dan Sehat - Menjaga anak kecil bukanlah perkara mudah. Banyak hal yang perlu diberi perhatian serius dalam menjaga anak kecil.


Jika ada kesalahan kecil sekalipun, ia pasti memberi dampak yang besar terhadap si kecil kita yang cukup sensitif.


Namun terkadang, kita tidak tahu atau sadar bahwa kesehatan anak-anak sedang terancam. Akibatnya kita terlambat untuk memberikan pertolongan.

Berikut adalah 6 masalah yang memengaruhi kesehatan anak yang jarang diketahui orang tua. Meski nampak sepele, tapi berdampak besar terhadap kesehatan anak-anak jika diabaikan:


1. Minum minuman bersoda

Minuman bersoda atau berkarbonasi memang terasa nikmat dan menyegarkan. Anak-anak biasanya menyukai minuman jenis ini. Tapi minuman jenis ini berbahaya untuk anak-anak. Minuman bersoda mengandung kafein.

Apabila anak mengonsumsinya dalam jumlah yang banyak, efek yang mereka akan terima adalah seperti susah tidur, hiperaktif, dan mengganggu proses pembelajaran.

Zat lain yang ada di dalam minuman bersoda adalah natrium. Natrium terpercaya dapat meningkatkan tekanan darah.

Mungkin sewaktu kecil, seorang anak yang banyak menggunakan natrium tidak nampak efek sampingnya. Efek samping itu akan terlihat ketika anak mulai meningkat dewasa. Biasanya mereka akan mengalami penyakit tekanan darah tinggi.

Oleh sebab itu, tidak heran pada zaman sekarang, kebanyakan anak-anak muda menderita stroke.

2. Minum air es

Air es ternyata tidak baik untuk anak-anak. Air es menyebabkan kegemukan. Mengapa? Karena air es mencegah proses pelarutan lemak dalam tubuh, sehingga menyebab akumulasi lemak dalam tubuh secara berlebihan.

Ketika anak-anak kita gemuk, jangan pandang remeh. Anak yang gemuk belum tentu anak yang sehat. Air es juga menyebabkan pilek dan batuk. Selain itu, air es juga dapat menyebabkan rangsangan yang sangat kuat pada saluran pencernaan.  Hal ini dapat menyebabkan sakit perut.

Justru, minuman yang hangat ataupun yang bersuhu kamar dianjurkan untuk anak-anak.

3. Menonton televisi terlalu dekat

Kebiasaan menonton TV terlalu dekat juga memberikan dampak negatif pada anak, terutama pada bagian mata. Anak juga mudah mengalami penyakit rabun jauh.

Aksi yang dipertontonkan di televisi dan permainan modern yang berhubungan dengan komputer membuat banyak anak-anak tumbuh dalam lingkungan sempit dan terbatas.

Tidak heran jika sekarang kita sering lihat semakin banyak anak-anak di sekolah dasar yang memakai kacamata. Dalam penelitian yang melibatkan 191 anak dengan usia rata-rata 13 tahun, peserta ditanya berapa lama mereka menghabiskan waktu menghadap komputer, membaca buku bukan pelajaran, dan menonton televisi. Di saat yang sama, penglihatan anak-anak ini diperiksa setiap tahun.

Hasil penelitian menemukan, anak-anak mengalami rabun jauh lebih banyak yang menonton televisi, yaitu selama 12,5 jam seminggu dibandingkan hanya 8,4 jam untuk anak-anak yang tidak ada masalah penglihatan.

Para ahli mengatakan aktivitas diluar rumah dapat 'menghambat' sinyal perkembangan rabun jauh.

4. Makan permen

Gigi anak mudah sakit. Memakan makanan yang terlalu manis seperti permen sangat berbahaya bagi kesehatan gigi anak. Untuk mengatasi masalah ini, ketika anak kecil kita sedang 'berselera' ingin makan permen, minta dia makan permen di rumah, sehingga kita pun bisa memintanya cepat-cepat menyikat gigi setelah mereka makan. Selain itu, kita harus selalu berpesan kepada mereka tentang efek tidak menggosok gigi.

5. Membaca sambil tiduran

Membaca sangat disukai oleh anak-anak, walaupun mungkin mereka hanya melihat gambar-gambarnya saja.

Namun, apabila kegiatan ini dilakukan dengan posisi yang tidak benar, seperti tidur atau berbaring, ia tidak baik untuk kesehatan mata anak kita.

Jarak ideal antara buku dan mata adalah 30 cm. Coba kita perhatikan ketika buah hati kita membaca buku sambil berbaring, secara sadar atau tidak, posisi buku akan menjadi semakin dekat dengan mata karena tangan menjadi letih untuk menopang atau memegang buku.

Posisi yang baik untuk membaca adalah secara duduk dan relaks.

6. Membaca di dalam mobil

Membaca di dalam mobil juga tidak baik untuk anak. Ini karena, struktur jalan menyebabkan mobil selalu bergerak dalam kondisi tidak stabil, bergoyang dan bergetar.

Misalnya, ketika sedang mengemudi di jalan rata, tiba-tiba ban mobil kita melewati air, ini sedikit sebanyak akan membuat mobil kita bergoyang dan bergetar.

Apabila kondisi seperti ini terjadi, itu menyebabkan mata susah untuk fokus dan cepat letih. Selanjutnya ia dapat menyebabkan kerusakan mata.

Itulah beberapa hal yang harus dihindarkan. Daya tahan tubuh anak-anak masih lemah. Jadi, perawatan tubuh dan menjaga kebiasaan yang sehat harus ditanamkan agar anak dapat tumbuh sehat dan bebas dari implikasi masalah kesehatan.

Semoga apa yang saya tampilkan dalam artikel ini memberi manfaat kepada kita semua. Amin.

Thursday, September 8, 2016

Pendidikan Anak Berkarakter Melalui Pemberian Nama Peralatan Sekolah

Cantik dan Sehat - Masih ingat ketika peralatan sekolah milik si kecil selalu diberi nama ketika memasuki PAUD. Mulai dari tasnya, kotak pensilnya, crayon gambarnya dan buku gambarnya.

Sekilas hal tersebut dianggap wajar dan umum dilakukan, karena tujuannya agar peralatan sekolah si kecil tidak hilang atau tertukar dengan milik temannya.

Namun setelah dipelajari lebih lanjut, hal yang dianggap wajar itu dan sederhana tersebut memiliki efek yang baik dalam rangka mendidik anak agar menjadi anak yang berkarakter.

Penamaan atau pemberian label peralatan sekolah si kecil tidak hanya sekedar pertimbangan ekonomis saja, tetapi merupakan salah satu cara agar anak punya rasa tanggung jawab atas barang-barangnya. Inilah salah satu bentuk dari pendidikan anak berkarakter.


Saat ini pendidikan berkarakter adalah salah satu ikon yang menjadi booming dan merupakan salah satu dari tujuan pendidikan untuk membentuk kepribadian anak. Oleh karena itu pemberian label terhadap peralatan sekolah anak merupakan salah satu cara untuk membentuk anak yang berkarakter.

Berikut ini adalah beberapa manfaat yang bisa diperoleh dari pendidikan anak berkarakter melalui pemberian nama peralatan sekolah yang dimiliki si kecil.

1. Melatih anak untuk bertanggung jawab terhadap barangnya

Barang hilang, tertinggal atau bahkan tertukar adalah fenomena yang biasa menimpa kalangan anak-anak. Apalagi untuk anak-anak di tingkat PAUD atau TK, barang tertukar ataupun hilang akan sering kita dengar. Biasanya para wali murid yang akan mengadu kepada guru. Dan si kecil meminta yang baru lagi kepada orang tuanya.

Sebenarnya itu adalah hal yang wajar. Akan tetapi seharusnya anak dilatih untuk bertanggung jawab atas barang yang dimilikinya. Oleh karena itu dengan pemberian nama pada peralatan sekolah, anak diharapkan bisa menjaganya dengan baik. Beri penjelasan agar anak bisa menjaga barang-barangnya.

2. Melatih anak untuk menghargai peralatan orang lain

Ketika belajar anak kita dan teman-temannya mungkin akan saling meminjam peralatan sekolah. Mungkin saja anak kita atau temannya tidak mengembalikan barang yang dipinjamnya. Mungkin mereka berpikir selama barang tidak dipakai oleh yang punya, maka boleh digunakan.

Padahal seharusnya anak dilatih untuk meminta izin ketika mau memakai barang yang bukan miliknya, meski itu barang-barang milik saudaranya.

Dengan pemberian nama atau labeling maka anak akan dilatih untuk menghormati barang milik orang lain. Harus ada adab yang diperhatikan ketika mau menggunakan benda milik orang lain yaitu dengan meminta izin terlebih dahulu.

3. Melatih anak disiplin

Pemberian nama terhadap peralatan sekolah secara tidak langsung mengajarkan anak untuk merawat dan menjaga barang yang dimilikinya. Anak harus terbiasa mengembalikan barang setelah barang tersebut tidak digunakan kembali. Dengan kebiasaan seperti ini maka anak akan terbiasa disiplin.

4. Melatih anak jujur

Tak dipungkiri sering kali anak akan menemukan barang yang tertinggal. Karena sudah ada nama yang tertera di barang tersebut maka kewajiban anak selanjutnya adalah mengembalikan barang tersebut. Minimal mengembalikan kepada guru untuk ditindak lanjuti.

Hal ini akan berbeda manakala barang tidak ada namanya. Bisa saja si anak akan mengambil barang tersebut dan menganggap bahwa barang tersebut adalah miliknya. Padahal peralatan sekolah itu bukan haknya meskipun status barang tersebut adalah temuan.

Pemberian label terhadap peralatan sekolah anak merupakan salah satu langkah untuk membentuk anak yang berkarakter. Karakter yang baik harus dilatih sejak anak usia dini. Tentunya dengan memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang nyata akan lebih membekas dalam diri anak dan tentunya tingkat keberhasilan pendidikan akan lebih terjamin. Karena semua orang tua akan berharap agar tidak mengalami kegagalan dalam membentuk anak yang berkarakter.